Selasa, 20 September
2016 Seluruh SKPD Kabupaten Klungkung melaksanakan persembahyangan bersama,
sekaligus Ngaturang Bhakti Penganyar di Pura Agung Blambangan Kabupaten
Banyuwangi Jawa Timur. Pada kesempatan itu hadir Bupati Klungkung serta jajaran
SKPD Kabupaten Klungkung dan dihadiri pula Kepala Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Klungkung (Ida Bagus Made Oka Yusa Manuaba, SH.M.Si). Seluruh prosesi bhakti penganyar hingga
persembahyangan bersama berjalan lancar dan khyusuk, pelaksanaan
persembahyangan bersama serta diikuti dengan Ngaturang Bhakti Penganyar itu
sesungguhnya merupakan wujud nyata dari pengamalan tiga kerangka dasar agama
Hindu yang berlandaskan tattwa, susila dan acara. Dalam acara Agama, terdapat
upacara dan acara yang diwujudkan melalui penggunaan Banten. Pelaksanaan
persembahyangan itu juga sebagai wujud rasa bhakti dan peningkatan sradha.
Berita dan Informasi Seputar Kementerian Agama Kabupaten Klungkung
Kamis, 20 Oktober 2016
PERSEMBAHYANGAN BERSAMA DALAM RANGKA NGATURANG ACI BHAKTI PENGANYAR DI PURA AGUNG BLAMBANGAN, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR
Selasa, 20 September
2016 Seluruh SKPD Kabupaten Klungkung melaksanakan persembahyangan bersama,
sekaligus Ngaturang Bhakti Penganyar di Pura Agung Blambangan Kabupaten
Banyuwangi Jawa Timur. Pada kesempatan itu hadir Bupati Klungkung serta jajaran
SKPD Kabupaten Klungkung dan dihadiri pula Kepala Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Klungkung (Ida Bagus Made Oka Yusa Manuaba, SH.M.Si). Seluruh prosesi bhakti penganyar hingga
persembahyangan bersama berjalan lancar dan khyusuk, pelaksanaan
persembahyangan bersama serta diikuti dengan Ngaturang Bhakti Penganyar itu
sesungguhnya merupakan wujud nyata dari pengamalan tiga kerangka dasar agama
Hindu yang berlandaskan tattwa, susila dan acara. Dalam acara Agama, terdapat
upacara dan acara yang diwujudkan melalui penggunaan Banten. Pelaksanaan
persembahyangan itu juga sebagai wujud rasa bhakti dan peningkatan sradha.
PEMBINAAN PRA NIKAH BAGI CALON PENGANTIN KECAMATAN KLUNGKUNG TAHUN 2016
Semarapura 19 September 2016 Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Klungkung melaksanakan Pembinaan Pra Nikah Bagi Calon Pengantin yang bertempat di Masjid Agung Al-Fatah Kampung Jawa Semarapura dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang terdiri dari Remaja Masjid usia nikah se-Kecamatan Klungkung. Pembinaan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kepada remaja usia nikah dan masyarakat pada umumnya tentang hak dan kewajiban suami-istri berdasarkan hukum Islam dan amanat undang-undang no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan.
Pada kesempatan ini
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung (Ida Bagus Made Oka Yusa
Manuaba, SH. M.Si) memberikan sambutan dan sekaligus menjadi narasumber dengan
membawakan materi tentang Undang-undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan dan
pelaksanaannya, beliau memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara karena
telah merancang kegiatan ini sehingga dapat terlaksana sesuai dengan yang
direncanakan dan kegiatan ini diharapkan bisa bermanfaat bagi peserta pembinaan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung menyinggung tingginya angka perceraian di Era
Globalisasi yang di antaranya dilatar belakangi masalah perekonomian dirumah
tangga dan adanya perkawinan usia dini. Ada beberapa faktor penyebab perceraian
yaitu : masalah keuangan, tidak setianya pasangan sehingga terjadinya
perselingkuhan, masalah seksual, dan keturunan. Perlu adanya saling komunikasi
dalam menjalankan rumah tangga. Akhir kata beliau berharap angka perceraian di
indonesia menurun dan di Kabupaten Klungkung tidak ada perceraian.
Selasa, 11 Oktober 2016
MENGENAL HARI RAYA DAN SUCI KEAGAMAAN SEBAGAI IMPLEMENTASI MENINGKATKAN KEYAKINAN DIRI
Hari Suci Kathina adalah hari suci
agama Buddha untuk menunjukkan rasa baktinya kepada Sangha. Ada juga yang
menyebut Hari Kathina sebagai hari Sangha.Hari Suci Kathina dirayakan di bulan Kathina dalam kalender Buddhis atau sekitar bulan November di kalender Masehi. Hari Kathina ini dirayakan sekitar empat bulan setelah hari raya Asadha.
Kata Kathina berarti pakaian pahala yang diberikan setiap tahun kepada Sangha sesudah pengunduran diri selama Vassa (bahasa Pali) atau varsa (bahasa Sansekerta).
Vassa umumnya dikenal sebagai Bhansa-kala (Thai). Selama Bhansa-kala semua bhikkhu mengundurkan diri khusus untuk diabdikan pada meditasi atau pemeriksaan diri ke tempat yang sepi selama kurang lebih 90 hari. Kathina merupakan satu ajaran yang harus ditaati oleh para Bhikkhu seperti diterangkan di dalam Vinaya.
Dalam aliran Utara, jangka waktu vassa dimulai pada hari ke 16 dari bulan keempat dan berakhir pada hari ke 15 dari bulan ke 7 dari penanggalan Tionghoa, atau sekitar mulai bulan Mei/Juni dan berakhir pada bulan Oktober/November.
Dalam Mahayana Tionghoa dikatakan bahwa Vassa adalah dalam musim panas, maka dari itu Bhansa-kala Tionghoa jatuh dua bulan lebih dahulu dari Bhansa-kala Muangthai.
Pada kenyataannya, varsa-kala atau Bhansa-kala sama artinya dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Pali, Bhansa berarti hujan dan kala berarti waktu. Jadi, Bhansa-kala berarti musim hujan.
Sejarah Khatina:
Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Vihara Jetavana di kota Sravasti, maka kabar itu tersebarlah kepada sejumlah Bhikshu Aranyaka (dalam naskah Pali dikatakan jumlah bhikshu tersebut 30 orang) dari berbahai tempat pertapaan dan jurusan hutan Pateyya, dan semuanya adalah Arya Sangha. Mereka meninggalkan tempat mereka menuju ke kota Sravasti dengan maksud menghaturkan hormat kepada Sang Buddha.
Mereka berjumpa satu sama lainnya secara kebetulan di jalan dekat kota Saketa yang letaknya kira-kira 60 mil dari Sravasti. Ketika para Bhikshu tersebut tiba di kota Saketa, Bhansa-kala sudah dimulai. Maka terpaksa mereka berdiam di kota Saketa selama lebih kurang 90 hari sesuai dengan peraturan pertapaan yang berlaku.
Setelah 90 hari pengunduran diri itu, hujan tidak henti-hentinya turun dengan derasnya, sehingga tanah dan jalan-jalan tergenang air serta lumpur. Tetapi oleh karena para Bhikshu itu berkeras hendak berangkat selekas mungkin ke kota Sravasti demi menghaturkan sembah sujud mereka kepada Sang Buddha, maka berangkatlah mereka walaupun hujan turun dengan derasnya.
Setiba di Sravasti mereka langsung menuju ke Vihara Jetavana dan menjatuhkan diri mereka memberikan sujud kepada Sang Buddha. Sang Buddha melihat bahwa mereka masih basah kuyub dari kepla hingga jari kaki, pakaian mereka basah dan penuh lumpur. Sang Buddha menanyakan pada mereka apa yang telah terjadi, dan mereka pun menceritakan seluruh kejadian itu.
Sang Buddha bergembira mendengar kebhaktian dan pengabdian mereka, dan memberikan ijin untuk segera menukar pakaian/jubah mereka yang basah kuyub itu. Kemudian Sang Buddha mengeluarkan perintah Kathina agar para anggota Sangha mendapatkan satu pakaian baru setahun sekali setelah kesukaran pada para Bhikshu Aranyaka yang tinggal di hutan.
Peraturan untuk melaksanakan Kathina
- Upacara Kathina dilakukan setahun sekali dalam jangka waktu satu bulan dimulai dari hari sudah berakhir masa vassa berakhir. Dalam aliran Utara, dimulai pada hari ke-16 bulan ke-8 menurut tanggal Tionghoa. Dalam aliran Selatan dimulai pada hari ke-16 bulan ke-11 sampai hari ke-12 bulan ke-12 menurut penanggalan Thailand.
- Suatu Vihara harus mempunyai dewan yang terdiri atas sekurang-kurangnya 6 anggota Sangha, dengan seorang ketua yang berwenang untuk mendengarkan pengakuan kesalahan, memberikan absolusi dan mendiksakan selama jangka waktu Bhansa-kala dan kompeten untuk melaksanakan upacara Kathina.
- Sebuah vihara yang penghuni anggota Sangha-nya kurang dari 5 Bhikkhu pada Bhansa-kala, tidak kompeten untuk melaksanakan upacara Kathina (untuk Mahayana).
- Suatu vihara hanya diijinkan untuk melakukan upacara Kathina setahun sekali.
Khusus untuk para Bhikkhu, yang mendapatkan jubah Kathina ialah mereka yang paling berjasa dan patuh di dalam menjalankan Vinaya dalam masa Vassa tersebut. Pemberian jubah Kathina ini diserahkan atas dasar pertimbangan Sangha. Bhikkhu yang mendapat jubah Kathina adalah seorang Bhikkhu yang dinilai paling tekun dan patuh dalam menjalankan Vinaya.
Pahala dari melakukan kebajikan hari Kathina
Sehubungan dengan pencapaian pahala kebajikan dari Kathina Sang Buddha mnyatakan bahwa kebajikan ini akan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan memberikan persembahan kepada Sang Buddha sendiri.
Dalam Daksina Vibhangga Sutra dijelaskan:
"Pada suatu ketika, Sang Buddha berdiam di kota Kapilavastu, Maha Pajapati Gotami memberikan persembahan sepotong kain yang ditenunnya sendiri. Sang Buddha menolak pemberian tersebut dan mengatakan agar kain tersebut dipersembahkan keoada Sangha supaya pahalanya lebih tinggi. Berulang-ulang kali Mahapajapati Gotami memohon agar Sang Buddha berkenan menerimanya, tetapi Sang Buddha tetap mengulangi nasehatnya. Ananda yang bertindakselaku pelayan Sang Buddha juga turut memohon belas-kasih Sang Buddha agar menerima kain persembahan tersebut berdasarkan kesucian pengabdian Mahapajapati dalam kepercayaannya bahwa pahala dari pemberian itu akan menjamin kebahagiaan baginya...."
Dari kutipan di atas jelaslah bahwa berdana kepada Sangha sangat bermanfaat bagi si pemberi dan juga bagi si penerima.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian persembahan Kathina:
Barang/persembahan hendaknya yang dapat digunakan oleh seorang Bhikkhu untuk mendukung kehidupan suci.
Saat sebelum memberikan dan saat memberikan persembahan (harus dengan berbahagia)
Saat persembahan Kathina diberikan selama musim Kathina.
Senin, 13 Juni 2016
Menag: Pawai Seni Bali Teguhkan Nilai Religiusitas
(Inmas Bali) Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
beserta Ibu Menag Trisna Willy Lukman Hakim menghadiri acara Pawai Pesta
Kesenian Bali ke-38 tahun 2016. Pawai seni ini digelar di Depan Monumen
Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala, Renon, Bali, Sabtu (11/6) sore,
dan dibuka oleh Presiden Joko Widodo.
Ditemui usai gelaran, Menag Lukman mengatakan bahwa tradisi Pawai Pesta Kesenian Bali tidak hanya menjaga budaya, mengintensifkan pendidikan, dan mengembangkan ekonomi, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai religiusitas dalam berkesenian dan berkebudayaan.
�Yang selalu menarik dari Bali adalah karena semua hasil budaya masyarakatnya, berupa; tarian, pagelaran musik, karya lukis, dan karya seni lainnya adalah persembahan (wujud peribadatan) kepada Tuhan YME, sehingga selalu ada nilai-nilai spiritualitas yang melekat yang menjadi jiwa dalam berkesenian. Inilah warisan tradisi para leluhur yang patut terus dilestarikan dan dikembangkan,� kata Menag.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam sambutan pembukaan menegaskan, momentum pesta kesenian Bali kali ini sangat ditunggu masyarakat dan turis mancanegara. Menurutnya, selain sebagai media pendidikan, acara kesenian ini juga dapat menggerakan ekonomi masyarakat di Bali.
Acara ini dihadiri juga oleh beberapa Menteri kabinet Kerja seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubenur Bali Made Pastika beserta istri yang nampak duduk bersama Menag LHS di podium.
Berdasarkan pantauan Pinmas, acara kesenian tahunan ini, tidak hanya disaksikan masyarakat Bali, tetapi juga terlihat para turis mancanegara yang sejak siang hari sudah berkerumun untuk dapat menonton pawai seni secara langsung. Gubernur Bali Made Pastika mengatakan bahwa pawai kesenian ini menampilkan tari-tarian serta kesenian dari berbagai kabupaten dan kota di Pulau Dewata.
Pawai Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 ini dimulai dari panggung kehormatan di depan Bajra Sandi bagian selatan, menuju ke Barat di perempatan jalan Kusuma Atmaja. Selanjutnya iring-iringan peserta pawai menuju ke arah utara (depan kantor DPRD Bali), sampai ujung menuju ke timur jalan Cok Agung Tresna, dan finis di depan Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Sementara itu, Ketua II Panitia Pelaksana PKB ke-38, I Gede Arya Sugiartha menyampaikan bahwa acara ini diikuti 15 kontingen, sembilan Kabupaten/Kota, tiga partisipan luar negeri yakni: Perancis, India, dan Timor Leste, satu partisipan dari luar Bali yakni Provinsi NTT, dan drumband dari Universitas Udayana . Selain itu, ada tamu khusus yaitu dari Forum Kerukunan Umat Beragama dari seluruh Indonesia sebanyak 300 orang.
Sementara tema pekan kesenian Bali (PKB) ke-38 ini adalah �Karang Awak Mencintai Tanah Kelahiran Sendiri� yang mengandung pesan kesadaran masyarakat Bali akan tempat untuk memuliakan kekuatan yang dimiliki alam semesta (SDA) dan diri (SDM, kompetensi). (Arief/sn)
Ditemui usai gelaran, Menag Lukman mengatakan bahwa tradisi Pawai Pesta Kesenian Bali tidak hanya menjaga budaya, mengintensifkan pendidikan, dan mengembangkan ekonomi, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai religiusitas dalam berkesenian dan berkebudayaan.
�Yang selalu menarik dari Bali adalah karena semua hasil budaya masyarakatnya, berupa; tarian, pagelaran musik, karya lukis, dan karya seni lainnya adalah persembahan (wujud peribadatan) kepada Tuhan YME, sehingga selalu ada nilai-nilai spiritualitas yang melekat yang menjadi jiwa dalam berkesenian. Inilah warisan tradisi para leluhur yang patut terus dilestarikan dan dikembangkan,� kata Menag.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam sambutan pembukaan menegaskan, momentum pesta kesenian Bali kali ini sangat ditunggu masyarakat dan turis mancanegara. Menurutnya, selain sebagai media pendidikan, acara kesenian ini juga dapat menggerakan ekonomi masyarakat di Bali.
Acara ini dihadiri juga oleh beberapa Menteri kabinet Kerja seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubenur Bali Made Pastika beserta istri yang nampak duduk bersama Menag LHS di podium.
Berdasarkan pantauan Pinmas, acara kesenian tahunan ini, tidak hanya disaksikan masyarakat Bali, tetapi juga terlihat para turis mancanegara yang sejak siang hari sudah berkerumun untuk dapat menonton pawai seni secara langsung. Gubernur Bali Made Pastika mengatakan bahwa pawai kesenian ini menampilkan tari-tarian serta kesenian dari berbagai kabupaten dan kota di Pulau Dewata.
Pawai Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 ini dimulai dari panggung kehormatan di depan Bajra Sandi bagian selatan, menuju ke Barat di perempatan jalan Kusuma Atmaja. Selanjutnya iring-iringan peserta pawai menuju ke arah utara (depan kantor DPRD Bali), sampai ujung menuju ke timur jalan Cok Agung Tresna, dan finis di depan Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Sementara itu, Ketua II Panitia Pelaksana PKB ke-38, I Gede Arya Sugiartha menyampaikan bahwa acara ini diikuti 15 kontingen, sembilan Kabupaten/Kota, tiga partisipan luar negeri yakni: Perancis, India, dan Timor Leste, satu partisipan dari luar Bali yakni Provinsi NTT, dan drumband dari Universitas Udayana . Selain itu, ada tamu khusus yaitu dari Forum Kerukunan Umat Beragama dari seluruh Indonesia sebanyak 300 orang.
Sementara tema pekan kesenian Bali (PKB) ke-38 ini adalah �Karang Awak Mencintai Tanah Kelahiran Sendiri� yang mengandung pesan kesadaran masyarakat Bali akan tempat untuk memuliakan kekuatan yang dimiliki alam semesta (SDA) dan diri (SDM, kompetensi). (Arief/sn)
Rabu, 08 Juni 2016
PETA KABUPATEN KLUNGKUNG
Kabupaten Klungkung merupakan
Kabupaten yang paling kecil dari 9 (sembilan) Kabupaten dan Kodya di Bali,
terletak diantara 115 ° 27 ' - 37 '' 8 ° 49 ' 00 ''. Lintang Selatan dengan
batas-batas disebelah utara Kabupaten Bangli. Sebelah Timur Kabupaten
Karangasem, sebelah Barat Kabupaten Gianyar, dan sebelah Selatan Samudra India,
dengan luas : 315 Km².
Wilayah
Kabupaten Klungkung sepertiganya ( 112,16 Km²) terletak diantara pulau Bali dan
dua pertiganya ( 202,84 Km² lagi merupakan kepulauan yaitu Nusa Penida, Nusa
Lembongan dan Nusa Ceningan. Menurut penggunaan lahan di Kabupaten Klungkung terdiri
dari lahan sawah 4.013 hektar, lahan kering 9.631 hektar, hutan negara 202
hektar, perkebunan 10.060 hektar dan lain-lain 7.594 hektar.
Kabupaten
Klungkung merupakan dataran pantai sehingga potensi perikanan laut. Panjang
pantainya sekitar 90 Km yang terdapat di Klungkung daratan 20 Km dan Kepulauan
Nusa Penida 70 Km. Permukaan tanah pada umumnya tidak rata, bergelombang bahkan
sebagian besar berupa bukit-bukit terjal yang kering dan tandus. Hanya sebagian
kecil saja merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan tanah diatas 40 %
(terjal) adalah seluas 16,47 Km2 atau 5,32 % dari Kabupaten
Klungkung.
Bukit
dan gunung tertinggi bernama Gunung Mundi yang terletak di Kecamatan Nusa
Penida. Sumber air adalah mata air dan sungai hanya terdapat di wilayah daratan
Kabupaten Klungkung yang mengalir sepanjang tahun. Sedangkan di Kecamatan Nusa
Penida sama sekali tidak ada sungai.Sumber air di Kecamatan Nusa Penida dalah
mata air da air hujan yang ditampung dalam cubang oleh penduduk setempat.
Kabupaten Klungkung termasuk beriklim tropis. Bulan-bulan basah dan bulan -
bulan kering antara Kecamatan Nusa Penida dan Kabupaten Klungkung daratan
sangat berbeda.
Kecamatan Klungkung
Kecamatan Klungkung merupakan kecamatan terkecil
dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung, dengan batas - batas
disebelah Utara Kabupaten Karangasem, sebelah Timur Kecamatan Dawan, sebelah
Barat Kecamatan Banjarangkan dan sebelah Selatan dengan Selat Badung, dengan
luas 2.095 Ha, secara persis semua terletak di daerah daratan pulau Bali.
Kecamatan Banjarangkan
Kecamatan Banjarangkan merupakan kecamatan yang terletak paling barat
dari 4 (empat) kecamatan yang ada di kabupaten Klungkung, dengan batas – batas,
sebelah Utara Kabupaten Bangli, sebelah Timur Kecamatan Klungkung, sebelah
Barat Kabupaten Gianyar dan sebelah Selatan Selat Badung, dengan luas 45,73 Km2.
Secara administrasi Kecamatan Banjarangkan terdiri
dari 13 Desa, 55 dusun, 26 Desa Adat, dalam usaha untuk memajukan perekonomian
di wilayah ini telah didukung dengan beberapa sarana seperti, pasar umum,
koperasi, KUD, dan bank, RPD yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memajukan
perekonomian desa.
Kecamatan Dawan
Kecamatan Dawan merupakan Kecamatan yang terletak
paling Timur dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung dengan
batas - batas, sebelah Utara dan Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat
Kecamatan Klungkung dan sebelah Selatan Samudra Hindia dengan luas 37,38 Km².
Menurut penggunaannya luas wilayah Kecamatan Dawan terdiri 16,21 % lahan sawah,
17,26 % lahan tegalan, 35,50 % lahan perkebunan, 6,93 % lahan pekarangan 0,21 %
kuburan dan lainnya 23,89 %.
Kecamatan Nusa Penida
Kecamatan Nusa Penida terdiri dari 3 (tiga)
kepulauan yaitu pulau Nusa Penida, Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan, terdiri
dari 16 Desa Dinas, Dengan Jumlah Penduduk 46,749 Jiwa (8.543 KK). Pulau Nusa
Penida bisa ditempuh dari empat tempat yaitu lewat Benoa dengan menumpang Quiksilver/Balihai ditempuh +1
jam perjalanan, lewat Sanur dengan
menumpang perahu jarak tempuh + 1,5 Jam perjalanan. Lewat Kusamba dengan
menumpang Jukung jerak tempuh +1,5 jam perjalanan. Sedangkan kalau lewat
Padangbai dengan menumpang kapal Boat
yang jarak tempuh + 1 jam perjalanan.
Secara umum kondisi Topografi Nusa Penida
tergolong landai sampai berbukit. Desa - desa pesisir di sepanjang pantai
bagian utara berupa lahan datar dengan kemiringan 0 - 3 % dari ketinggian lahan
0 - 268 m dpl. Semakin ke selatan kemiringan lerengnya semakin bergelombang.
Demikian juga pulau Lembongan bagian Utara merupakan lahan datar dengan
kemiringan 0 - 3% dan dibagian Selatan kemiringannya 3 - 8 %. Sedangkan Pulau
Ceningan mempunyai kemiringan lereng bervariasi antara 8-15% dan 15-30% dengan
kondisi tanah bergelombang dan berbukit.
Mata
pencaharian penduduk adalah pertanian dan sektor perikanan merupakan mata
pencaharian utama oleh 6,68% tersebar pada desa -desa pesisir yaitu Suana,
Batununggul, Kutampi Kaler, Ped dan Desa Toyapakeh. Di Pulau Lembongan 16,80%
penduduk bergerak dibidang perikanan, dan Ceningan 12,88% mengingat kondisi dan
topografi daerah maka yang cocok dikembangkan adalah Sektor Pertanian, dan
Sektor Pariwisata (sumber : klungkung.go.id)
Langganan:
Postingan (Atom)

